Slow Travel Movement — Gen Z Pilih Tinggal Lama di Satu Tempat
30 April 2026 · 5 menit baca

Di tahun 2020, sebanyak 72% wisatawan muda di Amerika Serikat memilih untuk menghabiskan waktu lebih lama di satu tempat daripada melakukan perjalanan singkat ke beberapa destinasi, menurut survei yang dilakukan oleh Hostelworld. Ini adalah salah satu contoh nyata dari gerakan slow travel movement yang semakin populer di kalangan Gen Z.

Definisi Slow Travel Movement
Slow travel movement adalah sebuah gerakan yang menekankan pentingnya menghabiskan waktu lebih lama di satu tempat untuk menikmati pengalaman travelling yang lebih mendalam dan berkesan. Dengan cara ini, wisatawan dapat merasakan kebudayaan dan kehidupan sehari-hari di tempat yang mereka kunjungi, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan masyarakat setempat.
Di kota Chiang Mai, Thailand, misalnya, banyak wisatawan muda yang memilih untuk menghabiskan waktu beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan untuk belajar bahasa Thai, mengikuti kelas memasak, dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas lokal. Dengan cara ini, mereka dapat merasakan kehidupan sehari-hari di kota ini dan membangun kenangan yang lebih berkesan.
Keuntungan Slow Travel Movement
Slow travel movement memiliki beberapa keuntungan yang signifikan, baik bagi wisatawan maupun bagi masyarakat setempat. Dengan menghabiskan waktu lebih lama di satu tempat, wisatawan dapat:
- Menghemat biaya perjalanan, karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk melakukan perjalanan singkat ke beberapa destinasi.
- Merapatkan hubungan dengan masyarakat setempat, karena mereka memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka lebih lama.
- Menikmati pengalaman travelling yang lebih mendalam dan berkesan, karena mereka dapat merasakan kebudayaan dan kehidupan sehari-hari di tempat yang mereka kunjungi.
- Mengurangi dampak negatif perjalanan, karena mereka tidak perlu melakukan perjalanan singkat yang dapat menyebabkan polusi udara dan kerusakan lingkungan.
Di kota Barcelona, Spanyol, misalnya, banyak wisatawan muda yang memilih untuk menghabiskan waktu beberapa minggu untuk belajar bahasa Spanyol dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas lokal. Dengan cara ini, mereka dapat merasakan kehidupan sehari-hari di kota ini dan membangun kenangan yang lebih berkesan.
Contoh Nyata dari Slow Travel Movement
Di tahun 2019, sebanyak 10.000 wisatawan muda dari seluruh dunia mengikuti program Workaway, sebuah program yang memungkinkan wisatawan untuk bekerja dan tinggal di satu tempat selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan. Dengan cara ini, mereka dapat merasakan kehidupan sehari-hari di tempat yang mereka kunjungi dan membangun kenangan yang lebih berkesan.
Di kota Medellin, Kolombia, misalnya, banyak wisatawan muda yang memilih untuk menghabiskan waktu beberapa minggu untuk belajar bahasa Spanyol dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas lokal. Dengan cara ini, mereka dapat merasakan kehidupan sehari-hari di kota ini dan membangun kenangan yang lebih berkesan.
Masa Depan Slow Travel Movement
Slow travel movement diprediksi akan terus berkembang di masa depan, karena semakin banyak wisatawan muda yang memilih untuk menghabiskan waktu lebih lama di satu tempat untuk menikmati pengalaman travelling yang lebih mendalam dan berkesan. Dengan cara ini, mereka dapat merasakan kebudayaan dan kehidupan sehari-hari di tempat yang mereka kunjungi, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan masyarakat setempat.
Di tahun 2025, misalnya, sebanyak 50% wisatawan muda di Amerika Serikat diprediksi akan memilih untuk menghabiskan waktu lebih lama di satu tempat daripada melakukan perjalanan singkat ke beberapa destinasi, menurut survei yang dilakukan oleh Hostelworld. Ini adalah salah satu contoh nyata dari gerakan slow travel movement yang semakin populer di kalangan Gen Z.
