Quiet Quitting vs Hustle Culture — Gen Z Pilih Yang Mana
9 April 2026 · 5 menit baca
Perang Antara Quiet Quitting dan Hustle Culture
Baru-baru ini, fenomena quiet quitting mulai mendapatkan perhatian di kalangan masyarakat, terutama di kalangan Gen Z. Quiet quitting adalah fenomena di mana seseorang memilih untuk meninggalkan pekerjaan mereka tanpa memberitahu siapa pun, bahkan tidak memberikan surat pengunduran diri. Hal ini berbeda dengan hustle culture, di mana seseorang diharapkan untuk bekerja keras dan berkorban untuk mencapai kesuksesan.
Contohnya, di Amerika Serikat, sebuah survei yang dilakukan oleh Gallup menunjukkan bahwa 43% pekerja milenial merasa tidak puas dengan pekerjaan mereka dan 55% di antaranya merasa tidak memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang, terutama Gen Z, yang merasa tidak puas dengan pekerjaan mereka dan mencari cara untuk meninggalkan hustle culture.
Gen Z dan Quiet Quitting
Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, memiliki pandangan yang berbeda tentang pekerjaan dan kesuksesan. Mereka lebih fokus pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, dan mereka tidak takut untuk meninggalkan pekerjaan yang tidak membuat mereka bahagia. Contohnya, di Indonesia, sebuah survei yang dilakukan oleh Kemenpora menunjukkan bahwa 71% responden Gen Z lebih memilih untuk memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi daripada memiliki gaji yang tinggi.
Salah satu contoh quiet quitting yang berhasil adalah kisah dari seorang wanita muda bernama Sarah, yang meninggalkan pekerjaannya sebagai konsultan keuangan untuk menjadi petani organik. Ia memilih untuk meninggalkan pekerjaan yang tidak membuatnya bahagia dan memulai bisnis sendiri, yang sekarang telah berkembang menjadi sebuah usaha yang sukses.
Hustle Culture dan Dampaknya
Hustle culture memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental dan fisik seseorang. Banyak orang yang terjebak dalam hustle culture merasa terlalu sibuk dan tidak memiliki waktu untuk melakukan kegiatan yang mereka sukai. Contohnya, di Jepang, sebuah survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 25% pekerja merasa memiliki gejala depresi dan 15% merasa memiliki gejala kecemasan.
Salah satu contoh dampak hustle culture adalah kisah dari seorang pria bernama John, yang bekerja sebagai pengembang perangkat lunak. Ia bekerja selama 12 jam sehari, 7 hari seminggu, dan tidak memiliki waktu untuk melakukan kegiatan yang ia sukai. Akhirnya, ia mengalami burnout dan harus meninggalkan pekerjaannya untuk memulihkan kesehatan mental dan fisiknya.
Mencari Keseimbangan
Gen Z tidak harus memilih antara quiet quitting dan hustle culture. Mereka dapat mencari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dengan melakukan beberapa hal, seperti:
- Mengatur batasan waktu dan prioritas
- Melakukan kegiatan yang menyenangkan dan membuat bahagia
- Mengembangkan keterampilan dan minat
- Mencari dukungan dari teman dan keluarga
Contohnya, di Singapura, sebuah perusahaan teknologi telah memperkenalkan program "Work-Life Balance" yang memungkinkan karyawan untuk memiliki waktu luang yang lebih banyak dan melakukan kegiatan yang mereka sukai. Program ini telah berhasil meningkatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi karyawan dan meningkatkan produktivitas mereka.
Kesimpulan Alternatif
Gen Z memiliki pilihan untuk memilih antara quiet quitting dan hustle culture, atau mencari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dengan melakukan beberapa hal, seperti mengatur batasan waktu dan prioritas, melakukan kegiatan yang menyenangkan, mengembangkan keterampilan dan minat, dan mencari dukungan dari teman dan keluarga, Gen Z dapat mencapai keseimbangan yang mereka inginkan dan hidup bahagia.
Oleh karena itu, mari kita mulai mencari keseimbangan dalam hidup kita dan tidak takut untuk meninggalkan pekerjaan yang tidak membuat kita bahagia. Dengan melakukan hal ini, kita dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan yang sebenarnya.
